|
Pertarungan antara Ahl al-Tawhid dan Ahl al-Syirik
merupakan sunnatullah yang tetap berjalan, tidak akan
berakhir hingga matahari terbit dari sebelah barat. Hal ini
merupakan ujian dan cubaan bagi Ahl al-Haq agar
terjadi jihad fi sabilillah dengan lidah, pena
ataupun senjata.
Dan
sekiranya Allah menghendaki, tentulah Dia membinasakan
mereka (dengan tidak payah kamu memeranginya); tetapi Dia (perintahkan
kamu berbuat demikian) kerana hendak menguji kesabaran kamu
menentang golongan yang kufur ingkar (yang mencerobohi kamu).
Kita
lihat musuh-musuh tauhid berusaha sekuat tenaga dengan
mengorbankan waktu dan harta mereka tanpa mengenal lelah
untuk membela kebatilan mereka, menebarkan kesesatan mereka,
dan memadamkan cahaya Rabb mereka.
Mereka hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam) dengan
mulut mereka, sedang Allah tidak menghendaki melainkan
menyempurnakan cahaya-Nya, sekalipun orang-orang kafir tidak
suka (akan yang demikian).
Salah
satu senjata utama mereka untuk memadamkan cahaya Allah
ialah dengan menjauhkan manusia dari da'i yang
berpegang teguh dengan al-Qur’an dan al-Sunnah,
dengan gelar-gelar yang jelek dan mengerikan. Seperti kata
yang popular di tengah masyarakat yaitu “Wahabi”. Semua itu
dengan tujuan menjauhkan manusia dari dakwah yang benar.
Apa
sebenarnya Wahabi? Mengapa mereka begitu benci separuh mati
terhadap Wahabi? Sehingga buku-buku yang membicarakan
tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mencapai 80 kitab
atau lebih. Api kebencian mereka begitu membara hingga salah
seorang di antara mereka mengatakan bahwa Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab bukan anak manusia, melainkan anak setan,
Subhanallah, adakah kebohongan setelah kebohongan
ini?
…besar sungguh perkataan syirik yang keluar dari mulut
mereka; mereka hanya mengatakan perkara yang dusta.
Hal
seperti ini terus diwarisi hingga sekarang. Maka kita lihat
orang-orang yang berlagak alim atau ustaz bangkit berteriak
memperingatkan para pengikutnya, membutakan hati mereka dari
dakwah yang penuh barakah ini, dan dari para da'i
penyeru tauhid pemberantas syirik dengan sebutan-sebutan dan
gelaran-gelaran yang menggelikan, seperti gelaran “Wahabi”.
Padahal mereka tidak mengetahui hakikat dakwah yang
dilancarkan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
…Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi
mereka tidak mengetahui (hakikat yang sebenarnya).
…yang demikian itu, kerana mereka ialah kaum yang tidak
mengerti.
Yang
mereka dengar hanyalah tuduhan-tuduhan di tepi jurang yang
runtuh lalu bangunannya jatuh bersama-sama mereka ke dalam
neraka Jahannam. Tuduhan-tuduhan mereka tidaklah
ilmiah sama sekali, lebih lemah dari sarang labah-labah.
Misal bandingan orang-orang yang menjadikan benda-benda yang
lain dari Allah sebagai pelindung-pelindung (yang diharapkan
pertolongannya) adalah seperti labah-labah yang membuat
sarang (untuk menjadi tempat perlindungannya); padahal
sesungguhnya sarang-sarang yang paling reput ialah sarang
labah-labah, kalaulah mereka orang-orang yang berpengetahuan.
Semoga
kalimat sederhana ini dapat membuka pandangan mata mereka
terhadap dakwah ini dan agar binasa orang yang binasa di
atas keterangan yang nyata pula. Dan jangan sampai mereka
termasuk orang-orang yang difirmankan oleh Allah:
Dan
apabila dikatakan kepadanya: "Bertaqwalah engkau kepada
Allah" timbullah kesombongannya dengan (meneruskan) dosa
(yang dilakukannya itu). Oleh itu padanlah ia (menerima
balasan azab) neraka jahannam dan demi sesungguhnya, (neraka
jahannam itu) adalah seburuk-buruk tempat tinggal.
Apakah
Wahabi?
Perlu
ditegaskan di sini bahwa penamaan dakwah ini dengan “Dakwah
Wahabiyah” dan para pengikutnya dengan “Wahabi” merupakan
kesalahan kalau ditinjau dari segi lafaz dan maknanya.
Dari segi
lafaz, penamaan “Wahabiyah” dinisbatkan kepada Abdul Wahhab
yang tidak mempunyai sangkut paut dengan dakwah ini.
Ia tidak dinisbatkan kepada Muhammad bin Abdul Wahhab, yang
menurut mereka, beliau adalah pendirinya. Kalaulah mereka
jujur, tentu menamakannya dengan “Dakwah Muhammadiyah”
karena nama beliau adalah Muhammad. Namun karena mereka
menganggap bahwa jika menamakan dakwah ini dengan “Dakwah
Muhammadiyah”, ia tidak akan menjauhkan manusia, maka mereka
menggantinya dengan “Dakwah Wahabiyah”.
Adapun
dari segi makna, maka mereka juga keliru di dalamnya sebab
dakwah ini mengikuti manhaj dakwah al-Salaf al-Soleh
dari kalangan sahabat, tabi'in, dan tabi'ut
tabi'in. Kalaulah mereka jujur, tentunya menamai dakwah
ini dengan dakwah Salafiyyah.
Jadi
apakah sebenarnya Wahabiyah? Dalam Kitab Fatwa Al Lajnah
Ad Da'imahJuz
2, hal 174 diterangkan:
Wahabiyah adalah sebuah lafaz yang dilontarkan oleh
musuh-musuh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab disebabkan
dakwah beliau di dalam memurnikan tauhid, membasmi syirik
dan membendung seluruh tatacara ibadah yang tidak
dicontohkan dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi
wasallam. Tujuan mereka dalam menggunakan lafaz ini
ialah untuk menjauhkan manusia dari dakwah beliau dan
menghalangi mereka agar tidak mahu mendengarkan perkataan
beliau.
Sungguh
sangat menghairankan omongan kebanyakan manusia, ketika
mereka melihat seorang yang mengagungkan tauhid, menyeru dan
membelanya, mereka menyebutnya sebagai “Wahabi”. Yang lebih
lucu adalah apabila mereka menyatakan bahwa Ibnu Taimiyah
dan Ibnul Qayyim keduanya adalah Wahabi. Subhanallah!
Apakah Muhammad bin Abdul Wahhab melahirkan orang yang
hidupnya lebih dulu beberapa abad dari dirinya?
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata:
Mungkin sebagian orang-orang bodoh akan menuduh Imam
al-Suyuti dengan Wahabi sebagaimana adat mereka. Padahal
jarak wafat antara keduanya kurang lebih 300 tahun.
Aku teringat cerita menarik sekali, terjadi di salah satu
sekolah di Damaskus (Syria) ketika seorang guru sejarah
beragama Nashara (Kristian) menceritakan tentang sejarah
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan dakwahnya dalam
memerangi syirik, khurafat dan bid'ah. Sehingga seakan-akan
guru Nashara itu memuji dan kagum kepadanya. Maka berkatalah
salah seorang muridnya, “Wah guru kita menjadi Wahhabi!”.
Demikianlah kebencian mereka terhadap Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab dan orang-orang yang mengikuti dakwahnya,
bahkan kepada orang Nashranipun -yang nyata-nyata bukan
Muslimin- mereka tuduh “Wahabi”.
Dan
mereka tidak marah dan menyeksakan orang-orang yang beriman
itu melainkan kerana orang-orang itu beriman kepada Allah
Yang Maha Kuasa, lagi Maha Terpuji!
Beberapa Tuduhan dan Jawapan
Beragam
penilaian manusia dalam menilai dakwah ini. Sebagian mereka
berkeyakinan bahwa dakwah ini adalah mazhab kelima setelah
empat mazhab yang lain. Sebagian lagi menganggap bahwa
Wahabi sangat ekstrim sehingga mudah mengkafirkan kaum
muslimin. Sebahagian lagi menganggap bahwa Wahabi tidak
mencintai Rasulullah dan para wali. Serta
anggapan-anggapan lainnya yang sama sekali tidak ada
buktinya.
Sebelum membantah tuduhan-tuduhan mereka renungilah
perkataan al-‘Allamah Muhammad Rasyid Ridha berikut ini:
Pada masa kecilku, aku sering mendengar cerita tentang
“Wahabiyah” dari buku-buku Dahlan
dan selainnya. Sayapun membenarkannya karena taqlid
kepada guru-guru kami dan bapak-bapak kami.
Saya baru tahu tentang hakikat jama'ah ini setelah
hijrah ke Mesir. Ternyata aku mengetahui dengan yakin bahwa
mereka (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan pengikutnya)
yang berada di atas hidayah. Kemudian saya mengkaji
buku-buku Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab anak-anaknya, dan
cucu-cucunya serta ulama-ulama lainnya dari Najd (sebuah
daerah di Arab Saudi), maka saya mengetahui bahwa tidak
terdapat sebuah tuduhan serta celaan yang dilontarkan kepada
mereka kecuali mereka menjawabnya.
Jika tuduhan itu dusta mereka berkata, “Maha Suci Engkau
(Ya, Allah), ini adalah kedustaan yang besar.” Akan tetapi
jika tuduhan itu ada asalnya, mereka menjelaskan hakikatnya
dan membantahnya. Sesungguhnya ulama’ Sunnah dari
India dan Yaman telah meneliti, membahas dan menyelidiki
tuduhan-tuduhan yang dilontarkan kepada Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab dan pengikutnya. Akhirnya mereka mengambil
kesimpulan bahwa para penuduh itu sebenarnya tidak amanah
dan tidak jujur.
Baiklah,
sekarang kita kaji tuduhan-tuduhan mereka dan jawapannya.
Supaya Allah menegakkan yang benar dan menghapuskan yang
salah (kufur dan syirik), sekalipun golongan (kafir musyrik)
yang berdosa itu tidak menyukainya.
Tuduhan Pertama:
Mereka,
ahli bid'ah, menganggap bahwa dakwah Wahabiyah
merupakan mazhab kelima setelah empat mazhab lainnya
(Hambali, Maliki, Syafi'i dan Hanafi).
Jawapan kepada tuduhan pertama:
Ini
merupakan kejahilan mereka, sebab telah merupakan perkara
yang masyhur dan memang nyata bahwa dakwah ini bukanlah
dakwah baru. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam hal
aqidah mengikuti mazhab Salaf. Adapun dalam masalah furu'
mengikuti mazhab Imam Ahmad bin Hanbal (Hambali). Maka
bagaimanakah mereka menyatakan bahwa Wahabiyah merupakan
dakwah baru serta dianggapnya sebagai jama'ah sesat
dan rosak? Semoga Allah menghancurkan kejahilan, hawa nafsu
dan taqlid.
Syaikh
Muhammad Jamil Zainu pernah bercerita:
Aku pernah bertemu seorang di Syria yang mengatakan tentang
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bahwa beliau adalah pendiri
mazhab kelima dari empat mazhab. Maka akupun berkata
kepadanya bahwa bagaimana anda mengatakan demikian padahal
bukankah sudah masyhur bahawa mazhab beliau adalah Hambali?
Sungguh ini adalah kedustaan dan tuduhan tanpa bukti.
Tuduhan Kedua:
Mereka
menganggap bahwa dakwah Wahabiyah mudah mengkafirkan kaum
muslimin.
Jawaban kepada tuduhan kedua:
Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri telah menjawab tuduhan ini
ketika menuliskan dalam suratnya kepada Suwaidiy, seorang
alim dari Iraq (pada zamannya):
Adapun apa yang kalian sebutkan bahwa saya mengkafirkan kaum
manusia, kecuali yang mengikutiku dan bahwasanya aku
menganggap pernikahan-pernikahan mereka tidak sah, maka saya
katakah bahwa sungguh mengherankan, bagaimana hal ini dapat
masuk akal, apakah ada seorang muslim yang mengatakan
demikian. Ketahuilah aku berlepas diri kepada Allah dari
tuduhan ini, yang tidak muncul melainkan dari orang yang
terbalik akalnya. Adapun yang saya kafirkan adalah orang
yang telah mengetahui agama Rasul, kemudian setelah
mengetahuinya ia mencelanya, melarangnya dan memusuhi orang
yang menegakkannya. Inilah yang saya kafirkan.
Tuduhan Ketiga:
Mereka
menuduh bahwa Wahabi tidak mencintai Rasulullah.
Jawapan kepada tuduhan ketiga:
Ketahuilah wahai orang-orang yang berakal, bahwa Syaikh
Muhammad bin Abdul Wahhab mempunyai kitab yang berjudul
Mukhtashar Sirah al-Rasul yang berisi tentang perjalanan
hidup Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Ini menunjukkan kecintaan beliau terhadap baginda.
Maka
tuduhan ini merupakan kedustaan dan kebohongan yang akan
diminta pertanggungjawabannya di sisi Allah. Kemudian kita
katakan kepada mereka, yakni para penuduh, apakah cinta
kepada Rasulullah itu (dibuktikan) dengan mengadakan
(perayaan) Maulid Nabi,
Shalawatan bid'ah
atau selainnya yang tidak pernah diajarkan Rasulullah
sendiri? Atau cinta kepada Rasulullah itu
(dibuktikan) dengan mengagungkan sunnahnya, menghidupkannya,
membelanya serta memberantas lawannya (yaitu bid'ah)
sampai keakar-akarnya. Jawablah wahai orang-orang yang
dikurniakan akal.
Katakanlah (wahai Muhammad): "Jika benar kamu mengasihi
Allah maka ikutilah daku, nescaya Allah mengasihi kamu serta
mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha
Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”
Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya, juz 2 hal 37:
Ayat ini merupakan hakim bagi setiap orang yang
mengakui mencintai Allah padahal tidak mengikuti manhaj yang
ditempuh oleh Rasulullah. Dia dianggap dusta dalam
pengakuannya hingga dia mengikuti syari'at Rasulullah
dalam segala hal, baik dalam perkataan, perbuatan maupun
keadaan.
Tuduhan keempat:
Mereka
menuduh bahwa Wahabi menganggap diri mereka maksum sehingga
hanya merekalah yang benar dan tidak menerima kesalahan.
Adapun selain mereka dianggap penuh kesalahan dan tidak
pernah benar.
Jawapan kepada tuduhan keempat:
Sungguh
ini adalah tuduhan dusta. Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab
dalam salah satu suratnya berkata:
Dan aku berharap agar aku tidak menolak kebenaran yang
datang kepadaku. Aku bersaksi kepada Allah, para
Malaikat-Nya bahwa apabila datang kepadaku kebenaran, aku
akan menerimanya dan aku akan lemparkan semua perkataan
imamku yang menyelisihi kebenaran, selain Rasulullah,
karena dia tidak mengatakan sesuatu kecuali yang benar.
Tuduhan kelima:
Mereka
menuduh bahwa Wahabi mengingkari syafa'at
Rasulullah.
Jawapan kepada tuduhan kelima:
Syaikh
Abdul Aziz bin Baz menyatakan:
Tidak asing lagi bagi orang yang berakal dan mempelajari
sirah perjalanan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dan para
pengikutnya yang harum namanya, bahwa mereka semuanya
berlepas diri dari tuduhan ini. Lihatlah Imam Muhammad bin
Abdul Wahhab telah menetapkan syafa'at Rasul bagi
umatnya dalam berbagai karya-karya beliau, seperti Kitab
Tauhid dan Kasyfus Subhat, maka dari sini
jelaslah bagi kita bahwa tuduhan ini bathil dan dusta.
Sebenarnya yang diingkari oleh Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab adalah meminta syafa'at kepada orang-orang
yang sudah mati.
Tuduhan keenam:
Mereka menuduh Syaikh Muhammad
bin Abdul Wahhab di akhir hayatnya menyimpang dari jalan
yang benar dengan menolak beberapa hadis yang tidak cocok
dengan akalnya.
Jawapan kepada tuduhan keenam:
Syaikh
Abdul Aziz bin Baz telah menyanggah tuduhan ini dengan
perkataan:
Ini termasuk tuduhan dusta karena beliau diwafatkan
sedangkan beliau termasuk da'i besar yang menyeru
kepada aqidah salaf dan manhaj yang sahih, maka tuduhan ini
sangatlah dusta karena beliau sangat menghormati sunnah,
menerima dan mendakwahkannya hingga akhir hayatnya.
Demikianlah sekelumit tuduhan-tuduhan ahli bid'ah terhadap
dakwah yang penuh barakah ini. Semua itu hanyalah kedustaan
di atas kedustaan. Sungguh benarlah apa yang dikatakan oleh
Imam Ibnul Mubarak,
“Isnad itu termasuk agama, seandainya tanpa isnad
maka manusia akan berkata semahunya.” Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah juga berkata dalam Majmu' Fatawa, Juz I,
ms. 9:
Ilmu sanad dan riwayat merupakan kekhususan umat nabi
Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, Allah
menjadikannya sebagai tangga kebenaran. Ketika Ahl
al-Kitab tidak mempunyai ilmu sanad maka
bertebaranlah penukilan-penukilan dusta di antara mereka.
Demikian juga para penyesat dan Ahl al-Bid'ah dari
kalangan umat ini sama dengan Ahl al-Kitab, tidak ada
bedanya. Maka dengan ilmu sanadlah dapat terbedakan antara
al-haq dan al-bathil.
Untuk
mengakhiri pembahasan kita, rasanya sangat penting bagi kita
memperhatikan tiga perkara berikut, sekaligus sebagai
kesimpulan dari uraian di atas:
Pertama:
Hakikat
dakwah Wahabiyah.
Syaikh
Abdul Aziz bin Baz berkata:
Hakikat dakwah ini, sebagaimana dakwah Nabi Muhammad, ialah
memurnikan tauhid dan mewujudkan tuntutan syahadat
Laa
ilaaha illallah dan
Muhammadur Rasulullah.
Yang demikian itu dengan memurnikan ibadah hanya kepada
Allah saja dan menjadikan Rasulullah sebagai panutan yang
agung. Mereka (Wahabi) adalah golongan yang berjalan di atas
manhaj Salaf dari kalangan sahabat, tabi'in dan
orang-orang yang mengikuti mereka, baik dalam aqidah,
perkataan ataupun perbuatannya. Inilah manhaj yang wajib
bagi setiap muslim untuk berjalan di atasnya, meyakininya
dan mendakwahkannya.
Kedua:
Hukum orang yang mencela Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab.
Syaikh
Abdul Aziz bin Baz selanjutnya menegaskan:
Sesungguhnyua orang-orang yang mencela Syaikh Muhammad bin
Abdul Wahhab terdiri daripada dua kemungkinan. Yang
pertama dia adalah seorang yang bergelimang dengan syirk
sehingga dia memusuhi Syaikh karena dakwahnya yang mengajak
kepada tauhid dan membasmi segala macam kesyirikan. Yang
kedua dia adalah orang yang jahil yang tertipu oleh
da'i-da'i penyesat. Maka alangkah lucunya golongan jahil
ini karena mereka mengikuti orang yang jahil sejenis mereka.
Ketiga:
Himbauan
dan Ajakan.
Kepada
mereka yang benci dan hasad kepada dakwah yang penuh barakah
ini, kami nasihatkan: Bukalah pandangan mata kalian,
bangunlah dari tidur kalian, hilangkan segala kedengkian
yang ada di hati kalian. Bacalah dan cermatilah buku-buku
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan para pengikutnya dengan
lapang dada, nescaya kalian akan dapati bahwa kalian berada
dalam tipuan dan kegelapan.
TOP
Dipaparkan dengan izin Majalah As
Sunnah Edisi 12/Th.IV/1421 – 2000, asalnya
dengan judul Dakwah Wahhabiyah. Diikuti
dengan beberapa suntingan bahasa dan catitan
tambahan.
Sebuah lembaga pemberi fatwa di Saudi
Arabia
|